Hangatnya matahari masih begitu hangat, angkutan umum, mobil pribadi dan motor seperti biasa masih ramai di jalan raya. kaki ini pun melangkah menuju stastiun Bekasi, menjemput Junita. Dia sahabat ku ketika sama-sama di kota rantau, dia temen ospek aku ketika aku pertama kali di kampus FISIP. Persahabatan kami hingga saat ini masih baik-baik saja, walaupun kami tidak lulus bareng, tetapi persahabatan tak melihat sahabatnya berapa lama ia lulus, status sosial, dan status lainnya. salah satu sahabat kami yaitu Milly berkesempatan berkunjung ke Indonesia. Pada awalnya kami bersepakat akan bertemu Milly di Jakarta, akan tetapi kami melihat kondisi ia yang sedang hamil akhirnya kami yang mengalah untuk berkunjung ke rumah orang tua suaminya. ketika waktu ditetapkan salah satu dari kami tidak dapat bertemu, karena sakit, yang bernama Annissa Dwi P.
Junita dan aku pun sepakat akan tetap bertemu dengan Milly, karena kami sudah lama rasanya tidak bercanda ria, kangen-kangenan ah rindu sekali dengan kegiatan di saat-saat di kota rantau. setibanya aku menjemput Junita di stastiun Bekasi, kami pun bergegas ke rumah mertua Milly. Matahari yang sedang-sedangnya tersenyum di siang hari, tak mematahkan kami buat berkunjung, entahlh rasa panas itu dikalahkan rasa rindu yang tak bisa dikalahkan oleh panasnya matahari. Polusi dari kendaraan pun tak mengalahkan, seakan tekad sudah bulat buat ketemu, ah semuanya berlalu dan akhirnya ketemu Milly.
Aku hanya terdiam ketika melihat tubuhnya berbadan dua, sosok yang aku kenal saat ini sedang hamil. Rasanya baru kemaren aku memeluk ia di pelaminan dan mengucapkan selamat atas pernikahannya, saat ini ada janin yang terkandung di rahimnya, Subhanallah Alhamdulilah akan lahir ponakan baru, dan akan nambah lagi pasukan sosiologi junior. Rasa penasaraan pun memuncak dibenakku, aku mengelus perut buncit yang terisi oleh janin, dan ia sempat bergerak. Air mata tak kuat rasa kebahagian sosok sahabat yang pernah susah bareng di kota rantau sebentar lagi jadi seorang IBU. Ketika aku mengelus perutnya, Milly pun berkata "bebeb pegang beb, rasain deh ada gerakan di dalam perut Mil?" lagi-lagi aku hanya berkaca-kaca ingin rasanya meluk dede bayinya, lalu kami pun tersenyum melihat pancaran dari wajah sahabat yang dulunya galau tiada tara dengan sosok Husein yang begitu rumit persoalan cintanya.
Aku mencoba melihat perubahan-perubahan dari sosok Milly ketika hamil, tidak ada yang berubah. Milly tetaplah Milly yang ramai dengan tingkahnya, yang membedakan adalah perutnya. mungkin Junita juga memperhatikan apa yang aku perhatikan. hanya aku mulai memperhatikan dari kita ketemu di garasi hingga makan bareng, tak ada yang berubah hanya pola makan, dulu kalau makan bisa ga abis, sekarang Alhamdulilah makan selalu abis. Aku merasa senang melihat Milly menjaga sekali kandungannya, aku dan Junita sangat sangat senang ketemu Milly yang tak lama lagi harus pulang ke Madinnah untuk mengabdi kepada suaminya yang sedang menuntaskan pendidikan S2 nya. Ada rasa ingin menemani Milly saat melahirkan, semoga ada rejekinya bisa jengukin babynya di Madinnah. Semoga Jarak tak menjadi halangan buat menikmati persahabatan di kala usia tak lagi belia.
![]() |
| kebersamaan tak akan lekang oleh waktu |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar