Minggu, 14 September 2014

Menunggu kado dari KuasaMu

Pernah merasakan sesuatu yang tak sejalan dalam kehidupan ? 

jawabannya "aku pernah mengalami yang tak sejalan". 

ketika aku ingin masuk Fakultas Hukum, iya dari sejak dulu di sekolah cita-cita ku ingin jadi seorang yang duduk di Pengadilan, memakai baju hitam, memegang palu yang diletakkan di meja berwarna hijau. aku ingin menjadi seorang hakim. teringat ucapan guru gaji ku yang bilang "dunia ini sudah tak ada lagi keadilan yang berpihak ke kaum kecil"  seketika aku mengucapkan "aku mau jadi HAKIM" ucap di lubuk hati. Setelah masuk SMP entah aku ingin sekali membaca buku undang-undang mengenai pasal-pasal, dan sejenisnya, pelajaran yang mengenai dengan dunia hukum seperti pasal-pasal dan kawan-kawannya di sekolah menengah pertama hanya ada PKN (Pelajaran Kewarganegaraan). PKN merupakan menjadi kebanggan ku ketika aku mempelajarinya, aku seakan menemui apa yang aku idam-idam kan. 

Memasuki Sekolah Menengah Umum semakin menjadi inginan ku terwujud, apalagi ketika penjurusan IPA atau IPS. awalnya aku ingin masuk kelas sains, tetapi nilai-nilai di rapot dominan kelas sosial. akhirnya aku memutuskan apa yang sudah ditakdirkan di buku rapot. sejak memasuki kelas 11 Ips 1 aku sudah memantapkan diri, aku ingin meneruskan ke Hukum, membuktikan apa benar yang dikatakan oleh ustadz ku bahwa di dunia ini sudah tak ada lagi yang namanya "keadilan" waktu terus berputar, tak terasa kelas 12 pun aku singgahi dengan begitu banyak jadwal bimbel di luar maupun privat dengan guru matematika. Aku dulu terfokuskan di matematika, karena aku merasakan keterbatasan kemampuan ku di bidang matematika, akhirnya Bimbel (Bimbangan Belajar) di luar saja kurang, maka aku meminta kedua orang tua ku agar aku bisa ikut privat dengan guru di sekolah. 

Aku mengabiskan masa akhir menjadi seorang siswi di sekolah dengan segudang jadwal bimbel, ekstrakuliker. ekstrakulikuler aku pun tak sampai kelas 11, sesampai aku naik kekelas 11 aku menstopkan diri dari berbagai kegiatan diekstrakulikuler. aku menghabiskan membaca di ruang perpustakan sekolah, di lab komputer. saat itu sih aku mikirnya lebih baik di ruang perpus dibanding harus berpanas-panasan di luar gedung hehehe. tidak hanya faktor cuaca aja sih, hanya aku mikirnya ketika aku abis di ekstrakulikuler, wkatu buat belajar matematika dan mata pelajaran yang di tempat bimbel akan terganggu waktunya. sebenrnya semua temen deket ku pada ambil ekstrakulikuler merchingband, rohis, dan paskib, tetapi entah kenapa aku saat itu cuek dengan kegiatan itu, aku hanya di lab komputer, perpus atau berleha-leha di kelas. tak terpikirkan untuk mengabiskan waktu di ekstrakulikuler. 

ketika kelas 10 hampir semua ekstrakulikuler aku ikutin dan wajib emang sih statusnya kalau masih anak baru wajib ikut ekstrakulikuler. waktu aku memilih ikut KIR (karya Ilmiah Remaja), Rohis, Pramuka, Paskib. tetapi setelah aku mengalami proses tak ada satu pun aku pilih. merasa proses satu tahun cukup bagi ku untuk mengetahui bagaimana menjadi anak yang disibukkan dengan berbagai jadwal ekstrakulikuler. aku merasa saat itu mau fokus mengejar impian masuk ke Fakultas Hukum. setelah meninggalkan kelas 11 aku naik ke tahap terakhir yaitu kelas 12, semakin giat aku menjalani bimbel-bimbel, pulang malam, naik angkot, dianter temen. aku hanya ada waktu buat kongkow sama temen-temen seabis pulang bimbel atau hari sabtu. karena hari minggu tak mungkin bagi ku buat keluar rumah kecuali ada keperluan sekolah. entah kenapa aku menikmati jadwal bimbel ku, belajar matematika abis-abisan, akuntansi, bahasa inggris, geografi, dan lainya. 

Benakku saat itu hanya ingin masuk jalur yang tanpa tes SNMPTN, harapan semua siswi saat sekolah hanya lulus di perguruan tinggi tanpa tes. temen-temen sekelas udah pada daftra tes ke STT-Telkom, Simak UI, UGM. UNPAD, sedangkan aku hanya modal belajar buat UN. aku kalah start sama temen temen sekelas ku, saat itu sih aku mikirnya UN dulu baru mikirin PTN (Perguruan Tinggi Negeri). setelah memasuki semester kedua guru BK memberi tahu ke kelas bahwa ada PMDK di UNAIR (universitas Airlangga) dan aku melihat list yang tercatat bahwa nilai tidak terlalu tinggi seperti di UI, UNPAD, UGM. aku langsung tertuju dengan fakultas yang aku inginkan "F.H" , dalam hati ku "yes..alhamdulilah" ucap ku dalam hatiku. saat itu ingin rasanya memberikan info tentang PMDK di UNAIR ke mama dan papa, bahwa aku bisa ikut seleksi di dalamnya. 

Aku menceritakan semua info yang aku dapatkan mengenai hal tersebut, dan ucapan mama membuat ku melepaskan keinginan ku buat meneruskan di F.H UNAIR. beliau hanya bilang "teteh ikut tes di UPI ya ambil PGSD" saat itu tak kuasa retak semua angan-angan yang aku inginkan, yang aku pupuk sejak sekolah dasar. dari situ aku menuruti semua keinginan mama ku buat tes ke keguruan, akan tetapi hasilnya tidak lulus dalam tahap, mungkin Tuhan Maha Adil dalam segala sesuatu yang dipaksakan tidak baik untuk kedepannya, atau Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang lebih terbaik dari baik. aku sudah melepaskan UNAIR, UPI pun aku tidak lulus test. aku hanya mengaharapkan SNMPTN saat itu, ini merupakan cara terakhir buat aku masuk ke Hukum dibenakku, akan tetapi aku SNMPTN pun mama ku tidak mau aku ambil hukum, lagi lagi aku mengikhlaskan untuk tidak megambil jurusan itu, akhirnya aku pilih akuntansi dan PGSD untuk kedua kalinya. akhirnya pengumuman SNMPTN pun aku gagal, aku sudah pasrah dengan hasil terakhir ku. saat keputusasaan ku saat itu aku hanya pasrah buat ikut tes di UNSOED saat itu, dan aku pun saat itu tidak memilih ke hukum, aku mengambil jurusan "Sosiologi" aku sudah menetapkan aku tak ambil lagi jurusan "hukum" lagi. mungkin aku lelah ataupun aku sudah menguburkan cita-cita ku.mungkin ada sesuatu yang ingin Tuhan katakan kepada ku bahwa aku bisa sukses selain menjadi seorang penegak hukum. hehe 

Proses yang aku alami dengan waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar, aku ikhlas jika ini menjadi suratan takdir yang sudah ditakdirkan sebelum aku lahir di dunia. seakan Tuhan ingin memberitahu bahwa rencana Tuhan akan lebih indah jika kita tidak terlalu mengejar yang begitu over. Tuhan hanya ingin menunjukan KuasaNya, dan kita sebagai umat yang selalu dicintai dapat terus berdoa untuk meminta dan diselangi dengan rasa syukur yang telah Tuhan berikan. fase di saat usia belia terulang kembali ketika aku lulus kuliah, Maha Penyayang Engkau ya Rabb saat ini aku menikmati kembali fase itu. senantiasa aku pasrahkan dengan KuasaMu karena Engkau memberikan yang terbaik dari yang baik. karena Engkau Pemilik Alam Semesta ini, dengan RahmatMu dan kasih sayangMu aku berpasrah.


"Berdoa itu jangan sometime, tapi evertime kalo bisa overtime" (Andrew Sugiarto) 



Kamis, 11 September 2014

Masih ada cinta (?)

Perempuan yang ada di hadapan ku asyik dengan pengalaman ia datang ke ibu kota, liat pertunjukan teater di TIM ( Taman Ismail Marzuki). Saat disela-sela waktu bercerita ia meninggalkan guratan kekecewaan, kekecawaan yang ia rasakan ketika saat menonton pementasan, bukan kecewa dengan pementasnya akan tetapi sosok yang ia cintai. Aku mencoba menangkap semua cerita yang ia cerita kan, melihat sosok Perempuan yang sekaligus sahabat ku tak sanggup rasanya melihat pola orang yang kita cintai dan kagumi seakan tidak melihat dan ia begitu saja tanpa menyapa kita. Rasa kecewa, bete, dan lain-lain mungkin sudah campur aduk tak tahu lagi harus bersikap kaya gimana dan harus bagaimana. 

Benakku hanya terpikirkan "Masih ada cinta buat sosok lelaki yang mencuekin kamu?" ah lagi-lagi cinta yang membuat ku begitu bingung. Mungkin benar yang dikatakan Agnes Mo "cinta tak ada logika" . sahabat ku luar biasa, ia begitu besar mencintai lelaki itu. Terkadang aku tak paham dengan tingkah polahnya, begitu lapang dengan kesabaran yang ia miliki untuk tetap mencintai dirinya.Mungkin banyak sekali pengorbanan yang ia lakukan, tetapi diri ini jujur tak ada yang aku tahu pengorbanan apa untuk lelaki itu. Hanya yang aku tahu pengorbanan ia buat lelaki itu adalah perasaan, yang seakan tak pernah pergi dari hatinya.

Dahsyatnya cinta buat lelaki itu, tak pernah padam sekali pun. Walaupun sudah tidak bersama lagi dalam satu lingkaran. aku salut dengan pengorbanan hati dan perasaannya untuk tetap mencintai, walaupun lelaki itu belum bisa menerima keadaan tersebut. Kadang mencintai itu perlu ekstra sabar dan ikhlas, muudah-mudahan Pemilik Semesta Alam ini selalu memberikan yang terbaik buat pengorbanan perasaannya. Hidup adalah suatu pilihan, mencintai atau dicintai.

Rabu, 10 September 2014

Jatuh cintakah anda (?)

Manusia hanya makhluk yang lemah, segala sesuatunya menjadi tempat untuk menimbang kebajikan atau kemungkaran. Begitu pun ketika manusia mengalami jatuh cinta, memiliki rasa sayang, cinta terhadap lawan jenis menjadi kewajaran bagi kita umat manusia. kadang jatuh cinta tidak bisa diajak musyawarah untuk menjatuhkan hati ke siapa-siapanya, jatuh cinta bisa dimana saja, dan kapan saja. Begitulah nikmat Tuhan yang diberikan oleh kita. 

Seakan semua mengalir seperti air, mengalir saja rasa itu tumbuh dan bersemayang. Semua berhak jatuh cinta tak ada yang bisa menghalanginya, dengan siapa kita jatuh cinta. Ah jatuh cinta tak ada yang salah dengan kalimat "jatuh cinta" tetapi kenapa semua orang merasakan hal yang dinamakan "jatuh cinta". terkadang manusia diperbudak oleh kalimat mu wahai jatuh cinta, tak pernah aku pahami kenapa kalimatmu seakan menghipnotisnya.

Nama mu wahai jatuh cinta, sering sekali menjadi buah bibir ketika memulai suatu obrolan dan selalu hitz walaupun bumi ini bertambah terus usianya. seakan-akan namamu tak lekang oleh waktu, semua kalangan manusia senang ketika kau jumpai, bisa senyum-senyum sendiri, nyanyi tidak jelas, dan selalu meninggalkan warna merona pada pipinya. Begitu dahsyatnya wahai kau "jatuh cinta". sudah berapa jutaan di muka bumi ini yang kau hinggapi dengan kalimat "jatuh cinta". 

Tak ada batasan apapun dengan namamu wahai "jatuh cinta", bahkan namamu tak melihat usia dan jenis kelamin. entahlah wahai jatuh cinta, aku bingung kenapa namamu semakin kesini semakin banyak yang mudah mengeluarkan kalimatmu. sekali lagi aku tak boleh menghakimi namamu wahai jatuh cinta, terimakasih wahai jatuh cinta karena mu ribuan bahkan jutaan hidup berbahagia berawal dari kalimat mu, dan tak sedikit atas namamu orang di muka bumi ini menangis. 


24 di dalam (dua puluh empat)

Begitu banyak mimpi dan cita-cita yang telah aku ucap, acapkali bibir ini membuat orang yang sekitar ku bahagia, dan banyak pula yang terluka. ketika usia tidak lagi belia, semoga Pemilik Alam Semesta masih memberikan kesempatan untuk memperbaik menjadi sosok manusia yang lebih baik, dan bisa menjadi kebanggaan kedua orang tua. Mimpi bisa lulus di umur 22 kenyataanya tidak terwujud, tetapi mimpi tersebut digantikan saat umur ku 23 kurang beberapa bulan dan di tanggal 24 Juni 2014.

Kala usia tak lagi bisa dibilang belia, memasuki umur yang masuk di kawasan zona di tanyakan "kerjaan, jodoh, nikah" ah Tuhan terimakasih banyak aku memasuki angka dimana, semua orang menanyakan hal tersebut dan juga mendoakan walaupun terkadang cara mereka sedikit menyakitkan, akan tetapi aku tidak begitu sakit hati. Aku percaya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau sudah mengatur yang terbaik untuk ku dan tentunya buat manusia di muka bumi ini. 

ya Alloh tiada tara kasih sayang yang Engkau berikan kepada ku dari mulai usia di kandungan hingga saat ini, Alhamdulilah wasyukurrilah, terimakasih dan terimakasih. 

ya Alloh aku hanya ingin Engkau setia dalam mengamini semua doa yang telah ku panjatkan kepada Mu dengan rasa kasih sayang Mu dan cinta kasih sayangMu.

Terimkasih angka 23 telah memberikan pelajaran dan proses yang sangat berharga, selamat dateng (dua puluh empat)  yang tepat di tanggal 24 Agustus 2014. 

Happy Birthday to me :)





Jarak tak menjadi halangan

Hangatnya matahari masih begitu hangat, angkutan umum, mobil pribadi dan motor seperti biasa masih ramai di jalan raya. kaki ini pun melangkah menuju stastiun Bekasi, menjemput Junita. Dia sahabat ku ketika sama-sama di kota rantau, dia temen ospek aku ketika aku pertama kali di kampus FISIP. Persahabatan kami hingga saat ini masih baik-baik saja, walaupun kami tidak lulus bareng, tetapi persahabatan tak melihat sahabatnya berapa lama ia lulus, status sosial, dan status lainnya. salah satu sahabat kami yaitu Milly berkesempatan berkunjung ke Indonesia. Pada awalnya kami bersepakat akan bertemu Milly di Jakarta, akan tetapi kami melihat kondisi ia yang sedang hamil akhirnya kami yang mengalah untuk berkunjung ke rumah orang tua suaminya. ketika waktu ditetapkan salah satu dari kami tidak dapat bertemu, karena sakit, yang bernama Annissa Dwi P. 

Junita dan aku pun sepakat akan tetap bertemu dengan Milly, karena kami sudah lama rasanya tidak bercanda ria, kangen-kangenan ah rindu sekali dengan kegiatan di saat-saat di kota rantau. setibanya aku menjemput Junita di stastiun Bekasi, kami pun bergegas ke rumah mertua Milly. Matahari yang sedang-sedangnya tersenyum di siang hari, tak mematahkan kami buat berkunjung, entahlh rasa panas itu dikalahkan rasa rindu yang tak bisa dikalahkan oleh panasnya matahari. Polusi dari kendaraan pun tak mengalahkan, seakan tekad sudah bulat buat ketemu, ah semuanya berlalu dan akhirnya ketemu Milly. 

Aku hanya terdiam ketika melihat tubuhnya berbadan dua, sosok yang aku kenal saat ini sedang hamil. Rasanya baru kemaren aku memeluk ia di pelaminan dan mengucapkan selamat atas pernikahannya, saat ini ada janin yang terkandung di rahimnya, Subhanallah Alhamdulilah akan lahir ponakan baru, dan akan nambah lagi pasukan sosiologi junior. Rasa penasaraan pun memuncak dibenakku, aku mengelus perut buncit yang terisi oleh janin, dan ia sempat bergerak. Air mata tak kuat rasa kebahagian sosok sahabat yang pernah susah bareng di kota rantau sebentar lagi jadi seorang IBU. Ketika aku mengelus perutnya, Milly pun berkata "bebeb pegang beb, rasain deh ada gerakan di dalam perut Mil?" lagi-lagi aku hanya berkaca-kaca ingin rasanya meluk dede bayinya, lalu kami pun tersenyum melihat pancaran dari wajah sahabat yang dulunya galau tiada tara dengan sosok Husein yang begitu rumit persoalan cintanya. 

Aku mencoba melihat perubahan-perubahan dari sosok Milly ketika hamil, tidak ada yang berubah. Milly tetaplah Milly yang ramai dengan tingkahnya, yang membedakan adalah perutnya. mungkin Junita juga memperhatikan apa yang aku perhatikan. hanya aku mulai memperhatikan dari kita ketemu di garasi hingga makan bareng, tak ada yang berubah hanya pola makan, dulu kalau makan bisa ga abis, sekarang Alhamdulilah makan selalu abis. Aku merasa senang melihat Milly menjaga sekali kandungannya, aku dan Junita sangat sangat senang ketemu Milly yang tak lama lagi harus pulang ke Madinnah untuk mengabdi kepada suaminya yang sedang menuntaskan pendidikan S2 nya. Ada rasa ingin menemani Milly saat melahirkan, semoga ada rejekinya bisa jengukin babynya di Madinnah. Semoga Jarak tak menjadi halangan buat menikmati persahabatan di kala usia tak lagi belia. 


kebersamaan tak akan lekang oleh waktu

Minggu, 07 September 2014

Terimakasih tak akan cukup.

Demi pagi yang selalu menyinari oleh matahari, tak akan ada abisnya rasa yang aku ucapkan selain ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya. Terimakasih buat proses selama aku ada di Purwokerto, menjalani puasa ramadahan pertama di tahun 2008, menjalani sebagai mahasiswi Sosiologi FISIP UNSOED, menjalani sebagai junior, menjalani kehidupan sebagai anak kosan, dan menjalani kehidupan tanpa adanya bantuan mama papah.Aku hanya seorang anak dari dua bersaudara, yang kehidupannya dari SD hingga SMA bareng kedua orang tua, sehingga di saat memputuskan kuliah di luar kota sempat terpikir di kepala "apakah aku bisa menjalani semuanya ?", "sanggup kah aku menjalani cultur yang berbeda di keluarga ku ?", "gimana nanti jika aku sakit?" semua pertanyaan itu ada di benakku. Aku tak gentar untuk berkuliah di luar kota, dengan tekad yang kuat dan dorongan dari sahabat yang bernama Wiwi Septiani, akhirnya aku memilih Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan jurusan Sosiologi. 

Bareng wiwi Septiani


Demi sore yang berteman dengan lagit yang kemerah-merahan, banyak sekali kejadiaan yang tersimpan di memori otak ku, ketika aku menjadi senior, menjalani kepanitian ospek, menjalani perkuliahan, menjalani KKL (kuliah Kerja Lapangan), menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata), sehingga aku menjalani SKRIPSI. Aku merasa bersyukur tahap-tahap menjadi seorang Sarjana aku lewati, aku mengalami suatu proses, proses yang amat sangat luar biasa. Aku yang mempunyai pembimbing bayangan, di sini beliau membantu ku dalam memncari teori yang tepat, mekanisme menganalisis dalam metode penelitian kualitatif, yang tidak pernah aku rasakan oleh pembimbing asli ku, tetapi aku tetap bersyukur, oleh sikap pembimbing asli ku yang membebaskan buat skripsi ku, sehingga aku mendapatkan bantuan dari pembimbing bayangan. Aku sangat bersyukur ada seorang dosen yang mau diminta buat bimbingan walaupun dia bukan pembimbing skripsi ku. tak akan cukup ucapan terimakasih untuk beliau, aku selalu berdoa kepada Pemilik Alam Semesta agar bapak selalu diberikan kesehatan yang tak terhingga, selalu diberikan kebahagiaan buat membimbing mahasiswa-mahasiswi yang kebingungan dalam penulisan skripsi. "Terimakasih pak Hendri sudah membantu saya selama mengerjakan skripsi, dan mohon maaf pak sudah mau direpotkan oleh saya" 

Demi malam yang diselimuti oleh bintang-bintang untuk mengantikan matahari, saya mau berterimakasih buat teman, sahabat, senior dan junior yang selama ini menemani dan mewarnai keceriaan selama aku berproses, banyak banget cerita yang positif terkait perkuliahan, pertemanan, persahabatan dan persenioran. Terimakasih buat proses selama di kampus, di kosan dan di rumah sakit. kalian luar biasa pokoknya. Tak ada abisnya aku ucapkan terimakasih kepada teman seperjuangan Sosiologi 2008 yang sudah mengajari dan memahami karakter kalian di kepanitian makrab. Terimkasih buat Annissa, Erna, Milly, Indes, Junita walaupun dulu sempet berkonflik tetapi bersahabatan tak goyah, seakan semuanya baik-baik saja. semoga persahabatan tak sebatas belia saja, akan tetapi seterusnya.  Terimakasih buat Vinisa buat persahabatan ini langgeng, walaupun kisah cinta mu tak selanggeng persahabatan kita, makasih ya udah merawat ku ketika tangan ini patah, meyuapi aku, ah kamu luar biasa vinisa. Terimakasih buat mamang Aulia El Hakim, yang selalu menceritakan teori-teori sosial, dan mau berbagi ilmu walaupun terkadang ilmunya ketinggian.heheh
Terimakasih buat tim KKN yang kompak hingga kini, tak menyangka bisa seakrab hingga kini, walaupun pas awal ketemu aku pesimis bakal sekompak sekarang, rejeki anak soleh banget dapat tim yang kompak walaupun sempat ada insiden yang diluar perkiraan.hehe

Bersama para sahabat, senior dan junior di acara Purwokerto bersatu 2013
pelepasan wisuda, ada vinisa, mamang, aa rif, arbi, egot, mugi, joy, megol, zaky, itsnen, deni.



ketika KKN 35 hari hidup bersama walau beda rumah, tetapi tetap sejenis lauk pauk ketika makan.
ketika KKL ke Bali, lebih dari 24 jam di bus mulai dari bobo, makan bersama teman-teman sosiologi 2008.

TENGKIYUH GAES !