Jakarta, ah siapa yang tak menganl dengan 'Jakarta' , kota yang menyajikan gedung-gedung bertingkat tinggi menjulang ke langit, dengan berbagai design. Aku menikmati sekali perjalanan ku ketika ke Jakarta, karena hari ini merupakan pertama kalinya aku naik bus patas mayasari bakti. mungkin sudah lima tahun aku tak merasakan para pengamen menyanyikan sebuah lagu di atas bus patas, dan aku sudah lama tak disapa oleh para penjajak tukang jualan, banyak sekali aktivitas di dalam bus patas yang sudah lama engga aku rasakan sejak aku pergi merantau di kota satria Purwokerto dan sudah lama kebiasaan naik bus patas aku tinggalkan karena aku menikmati kenyamannya dengan menggunakan KRL (kereta rangkaian listrik).
Aku mendengar suara permisi dari salah satu pengamen yang ada di bus patas yang aku tumpangi saat itu, ia seorang gadis berbaju merah muda (pink) gadis itu nyanyi dengan nada suara yang serak dan merdu, dengan menggunakan gitar kecil gadis berambut panjang tersebut menyanyikan sebuah lagu, yang aku sendiri tak tahu itu lagu siapa. sungguh aku menikmati suara serak dan merdu gadis tersebut, tak kala sesekali aku melihat ke arah gadis belia tersebut. aku malu dengan perjuangan gadis tersebut, ditengah-tengah desek-desekan penumpang di bus patas mayasari bakti jurusan Bekasi-Kalideres ia tetap berjuang, di jalan demi ingin mendapatkan sesuatu (uang). sungguh tamparan keras buat aku dalam mencari sebuah rejeki di Jakarta, aku pun tertunduk hanya ingin meminta maaf kepada Gusti Alloh, mungkin selama ini aku hanya berdoa yang berisi keluhan dan keluhan tanpa diiringin dengan rasa syukur yang maksimal. si gadis belia pun itu selesai menyanyikan lagu pertama, pikir ku ia sudah selesai, ternyata ia melanjutkan lagu kedua, dengan lagu yang engga aku tahu judulnya, hehe lagi-lagi aku hanya menikmati tanpa mengikuti lirik dari gadis belia tersebut. tak terasa petikan gitar ia pun berakhir, terakhir pun ia membuka sebuah kertas sebagai wadah untuk meminta recehan-recehan untuk menyambung hidupnya kepada para penumpang yang berbaik hati untuk mengasih recehan-recehannya. akhirnya si gadis itu pun turun di slipi, lalu bergantian dengan tukang permen dan tissu untuk menjajakan dagangan lalu ia tawari keseluruh penumpang patas yang aku tumpangi, selepas pedagang permen selesai, aku pun harus turun di tomang dengan berganti bus, karena bus yang aku tumpangi tidak melewati daerah yang aku tuju. mau engga harus mau untuk bersigap mengganti bus, dengan lincah kaki ini turun dengan gesit untuk turun lalu berganti bus. ah perjuangan itu harus capek, yes harus capek karena dengan capek kita bisa menghargai waktu luang untuk bergosip ria, berjalan kaki di sebuah taman, memakan batagor sambil menyeruput es teh manis. terkadang perjuangan pun harus rela bersahabat dengan keangkuhan antara mobil pribadi dengan angkutan umum yang lainnya, segudang keangkuhan di kala sore di kota Jakarta tak pernah aku lupakan,bahkan tak sedikit pun ada memendam kesal dengan keangkuhanmu Jakarta.
"keangkuhan Jakarta best friend for fever"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar