Sabtu, 25 Januari 2014

lelaki

hai..

"lelaki"

sosok lelaki yang aku kenal hanya papah ku, ia satu-satunya yang mengajarkan aku displin waktu, memandikan motor, membersihkan saluran air di sekitaran rumah. ah sosok yang aku kagumi di rumah.
aku masih ingat di memori ku ketika aku jatuh dari motor semua muka ku luka luka, pertama kalinya aku melihat papahku menangis, dan di saat itulah aku merasakan getaran seorang lelaki yang aku kagumi menangis melihat anaknya terluka untuk kedua kalinya :(
papah menangis, melebihi dari mamaku. tak kuasa hati ini melihat papah menangis.
di saat tubuh ini di infus dengan jarum jarum jahanam papah yang di samping tempat tidur sambil berkata "engga sakit kok jarumnya" . ah aku seperti anak TK yang akan takut jarum suntik. di saat jarum suntik dimasukkan di dalam tubuh aku hanya teriak "aaak sakit sus" papah ku hanya memegang kaki ku yang aku goyang-goyang kan. beliau lah yang menemani ku hingga jarum suntik tersebut menebus kulit tangan kanan ku.
tak sampai dijarum suntik dan infus terpasang, seorang suster perawat masuk mengambil sampel darah. lagi lagi tangan ini tersiksa oleh jarum suntik yang jahanam yang mengambil darah segar ku. tak kuasa tubuh ini menjerit sampai mengeluarkan air mata. papah hanya bilang "udah gede masa nangis ambil sampel darah" ketakutan akan jarum suntik sejak SD aku alami, hingga saat ini.
tangan kiri ku harus dilepaskan pen yang ditanam beberapa bulan yang lalu, kini harus dibuka diganti yang baru. gigi depan aku patah, pelipis muka robek. seminggu mau lebaran aku terbaring di rumah sakit kota Bekasi.
aku hanya bisa intropeksi diri, apakah ini ujian atau penghapusan segala dosa-dosa yang aku lakukan selama ini, atau ini cobaan untuk keluarga ku. papah ku hanya berisikan "yang sabar ya, susan pasti kuat jangan bawa motor lagi ya, papah engga kuat liat susan nangis ditusuk-tusuk pake jarum infusan". hati siapa yang tidak retak mendengar ucapaan dari lelaki yang aku sayangi mengkhawatirkan aku sedemikian rupa.
tak lama kemudian aku didorongkan ke ruang operasi, aku tergeletak tak berdaya di tempat tidur melihat di kanan ada mama dan kiri aku ada papah, mereka mengantarkan aku hingga ruang operasi. 
untuk kedua kalinya aku memasuki ruang operasi untuk pemasangan pen di tangan kiri, hanya berbeda ruangan saja, aku menunggu lama di ruangan operasi. seperti mengantri mengambil BLT. hari itu banyak yang di operasi, aku ke bagian urutan untuk ke 13 pasien yang terakhir. ruangan operasi Rumah sakit kota Bekasi hanya ada 6 ruangan, dan pasien 13 orang dan itu harus bergiliran untuk memasukinya. dan dokter pun menghampiri ku mengantakan "mba susan ya yuk masuk ke ruangan" aku hanya memberikan simbol senyuman kecil kepada sang dokter yang akan mengoperasikan tangan kiri ku.
di ruang operasi pada umunya ada meja berbentuk besi dan dikelilingi oleh peralatan peralatan operasi seperti monitor detak jantung, dan lainnya. beberapa dokter di ruang tersebut sedang sibuk memakai baju penganti untuk mengoperasikan aku, ada yang hijau dan biru serta tak lupa dari mereka mengatakan "yuk berdoa dulu, agamanya islam kan" dan aku pun berdoa "ya Alloh lancarkan dan mudahkan operasi ini" setelah aku berdoa, dari beberapa dokter memasukan cairan tak lama kemudian cairan itu membuat tak sadarkan diri lagi, aku hanya ingat ada dokter yang mengatakan "siapkan gunting dan lain-lain" dan aku pun tertidur selama 1,5 jam di ruangan operasi.
aku mulai sadar, ketika dari bagian mereka menepuk menepuk pipi ku "yuk sadar yuk kita pindah ruangan perawatan".
tempat tidur ku pun mulai didorong dari ruangan operasi, dan aku melihat pertama kali papah dan mamaku yang senantiasa menunggu. aku melihat dari mata mereka berkaca kaca mengkhawatirkan aku. aku pun melihat ua aku yang senantiasa menungguku. selesai operasi cairan penahan obat nyeri mulai hilang, terasa sekali linu dan sakitnya bekas operasi. tak tahan rasanya aku pun menahan sekuat mungkin tetapi air mata tak sanggup untuk aku tahan. papah ku melihat aku yang sedang menahan rasa sakit ia hanya berkata "sakit ya, yang sabar ya nanti juga ga sakit lagi" aku pun hanya senyum sambil menahan rasa sakit. lalu perawat pun dateng beberapa kemudian papah ku masuk lagi keruangan. "gimana udah engga sakit lagi kan?" dan aku pun tersenyum lagi, dalam hati pasti papah ku yang memanggil perawat tersebut untuk memberikan cairan untuk meredamkan rasa sakit yang aku alami setelah operasi.
makanan pun dateng, mama ku membantu aku untuk makan. dan aku disuapi seperti anak kecil yang tak bisa makan. aku seperti biasa melahap abis makanan yang diberikan oleh perawat rumah sakit. jam makan sore pun dateng setelah lamanya aku tertidur karena cairan yang dimasukkan di tubuh ku. kali ini makan disuapi papah ku, papah ku mensuapi aku dengan amat hati hati lalu baru setengah makan papah ku berenti "udah ya makannya biar ga malu maluin masa orang sakit makannya gembul" entahlah apa yang dipikirkan dari papahku, di saat itu papah ku menstop makanan yang aku makan, aku hanya tertawa melihat pola kelakuan papahku untuk aku berhenti makan.
tak terasa Idul Fitri datang, orang orang menyambut kemenangan dan merayakan aku hanya terbaring di rumah sakit, ada mama dan papah ku yang setia di samping aku. tak kuasa air mata jatuh seharusnya mereka tak direpotkan dengan keadaan seperti ini tapi kali ini lebaran Idul Fitri, mereka harus menemani aku di rumah sakit. gema takbir berkumandang terdengar jelas dari kamar, tak kuasa air mata ini jatuh dan aku hanya bisa berdoa disela sela takbir berkumandang "ya Alloh bahagiakan mereka, ijinkanlah aku membahagiakan mereka, berikanlah kesempatan aku untuk membalas semua apa yang mereka lakukan walaupun aku tahu aku tak sanggup membalas kebaikan mereka sejak aku lahir hingga saat ini". dan papahku dateng membawa baju kokoh putih dan peci hitam. "besok papah solat di mesjid deket rumah sakit aja, mama jaga susan aja" tak kuasa air mata ini perlahan jatuh mendengar ucapan dari papah.
takbir berkumandang menyebut namaNya
ALLOHUAKBAR....ALLOHUAKABAR....ALLOHUAKABAR....LAILLAHAILLALLOHUALLOHUAKBAR...
hati ini bergemtar akan takbir yang diserukan oleh ribuan umat mesjid AL-Barkah Bekasi.
papah pun selesai solat dateng dateng dan bersalaman dengan mama, mencium kening mama, lalu papah mencium kening aku sambil berkata "maafin papah ya kalo selama ini ada salaha sama susan" "susan juga minta maaf ya pah, seharusnya kita engga di sini" papah hanya bilang "sabar" tak lama kemudian teteh membawakan ketupat lebaran yang dibikin oleh ua tersayang, lengkap dengan hidangan yang lainnya. aku pun ikut memakannya.
setelah mampir dua minggu di rumah sakit saatnya aku keluar dari sana, dan papah ku berkata "alhamdulilah dilepas juga jarum infusnya, engga nangis lagi kan".


Makasih papah, kekhawatiran mu melebihi mama. i love you :* muah !

Jumat, 24 Januari 2014

Munajat doa

hembusan angin, seakan mewakili hati yang akan lelah dengan semua keadaan dihadapi.
sinaran bulan dan bintang tertutup, seakan mengisyaratkan bahwa malem ini akan turun hujan.
seketika aku hanya bisa terdiam lalu tubuh ini dibaringkan dengan pikiran yang melayang-layang.
aku hanya ingin tertawa bebas.
aku hanya ingin memeluk orang tua ku.
aku hanya ingin menangis dipelukkannya.
Tuhan ijinkan aku melakukannya.
Tuhan ijinkanlah.
Tuhan ridhailah.


Dua putri

hai..

kenalin saya Susan Agustin perempuan kelahiran Bekasi 24 agustus 1990, anak dari kedua dari dua bersaudara. punya saudara kandung satu, yaitu Metty Lasmayanty dia kelahiran Ciamis. kita beda lima tahun. dilahirin beda lima tahun kerasa banget dia panutan buat aku, mulai akademik sampai pola tingkah lakunya dia panutan aku. punya saudara kandung merupakan karunia terbesar, karena adanya kakak buat aku sendiri pengganti orang tua. sejak kakak SMP ada perubahan yang aku alami secara tidak sadar, dia sibuk dengan aktivitas di luar rumah. sejak itu aku merasakan kehilangan sosok kakak yang selalu bimbing PR-PR sekolah yang mempusingkan ketika saat itu. beranjak akhir SMP kakak makin sibuk, pada akhirnya aku pun sibuk (mensibukkan sendiri) main sepeda, TPA, ah apa aja yang bisa aku lakukan tanpa harus ada kakak.
di rumah pun kakak sibuk dengan tugas yang semakin menggila, dan aku pun hanya tertunduk lemas. aku berusaha membiarkan kakak ku asik dengan segudang tugas-tugasnya, sedangkan aku bermanja-manjaan sama bapak :)
sering kali mama memperhatikan kondisi tubuh kakak yang amat sangat letih, waktunya hanya dihabiskan buat belajar dan memahami semua pelajaran menjelang ujian akhir sekolah. aku pun tidak mengganggu untuk sekedar menonton kartun favorit kita, makan pop mie kesukaan kita, bahkan es krim yang bapak beliin khusus buat kita.
kakak itu biasa aku panggil "teteh" teteh itu sebutan buat kakak perempuan bagi orang sunda.
di rumah orang tua kami selalu mengajarkan sebutan yang lebih dewasa itu dengan sebutan "teteh ataupun aa" walaupun sekali-kali aku panggil kakak ku ya sebutan nama :)
setelah teteh selepas ujian SMP nya, teteh ada waktu lagi buat sekedar menikmati hangatnya pop mie, emping, dan dinginnya es krim :)
ah aku seneng banget bisa melakukan aktivitas yang tertunda itu, teteh cuma satu pesan buat aku "belajar yang rajin jangan suka main mulu" entah aku seneng ketika dia berbicara tersebut.
pada akhirnya kakak lulus dari SMP N 3 Bekasi, serta berpredikat juara umum. aku hanya terdiam terdiam serta menyaksikan perjuangan kakak untuk mengakhiri masa sekolahnya di SMP.
setelah dia melewati tahap masuk SMA dia lulus ke sekolah favorit SMA 2 Bekasi, oh Tuhan teteh keren.
benar yang diucapkan teteh ke aku "belajar yang rajin jangan suka main mulu". terbukti dia bisa mengambil hasilnya :)
semakin dewasa teteh disibukkan dengan berbagai kegiatan kegiatan yang ada di sekolah, dan aku masuk ke masa teteh di mana sibuknya habiis buat belajar dan bimbel.
aku sedikit berbeda, dengan teteh ku. aku masuk ke sekolah berbasis Islam SMP Muhammadiyah 28 Bekasi. pada saat itu tidak ada lagi pilihan buat masuk ke SMP Muhammadiyah, yah aku melewati fase di mana yang aku harus kuat. dengan perbedaan yang amat sangat berbeda dengan teteh jadilah bahan ledek meledek. aku hanya menanggapi dengan sedikit bercanda begitu pula dengan teteh ku ketika aku dipojokkan dengan saudara-saudara yang lainnya.
begitu fase yang amat sangat sulit bagi aku untuk dipermasalahan akademik, setelah teteh berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMA dia lanjut di IPB jurusan BIOKIMIA. lagi lagi dia berprestasi di akhir pendidikannya.
aku bangga punya seorang kakak kandung yang bukan main cerdasnya, semakin begini ujian semakin naik fase yang harus aku lewati adalah "punya kakak yang amat cerdas" seneng, sedih, resah. begitulah apa yang aku rasakan.
kuliah dia lulus cepat sekali tidak lebih dari empat tahun, luar biasa. ALLOHUAKBAR.
fase ini yang sedang aku alami, fase di mana aku benar benar jauh dalam prestasi akademik. Alloh sudah mengatur skenario, skenario kehidupan aku yang amat jauh berbeda dengan saudara kandung sendiri. aku mempercayai rejeki, prestasi, kesehatan dan lainnya sudah diatur dengan begitu indahnya dan sudah sesuai dengan kadar kemampuan umatNya. 
ini foto resmi ijasah terakhirnya 

liatlah dia sangat serius tatapan matanya, serta ditambah raut muka yang tidak bisa tersenyum dalam pose foto untuk diijasah. 
ini bulat sekali mukanya :D

semoga akhir bulan ini bisa menyusul apa yang diharapkan kedua orang tua yang menginginkan anaknya terlihat tidak terbebani oleh tugas akhir :'))



Televisi

malem menjelang pagi, acara televisi sudah mulai tak sejalan apa yang aku inginkan, 
televisi seakan menjadi benda hanya untuk meramaikan malem menuju dini hari yang diselimuti dinginnya embun pagi. 

pembicaraan yang tak arah tujuan, seperti air bah yang ramai dibicarakan di media. 

aku sibuk dengan chanel yang disajikan dari sebuah benda berbentuk kotak. 

akhir-akhir ini media kotak tersebut memberikan sajian yang menurutku benar, tetapi sewaktu-waktu benda kotak tersebut menjadi tempat yang tidak layak untuk dilihat. 

benda kotak tersebut semakin ramai dengan para penguasa media, penguasa yang akan haus jabatan pemerintah RI saat ini. 

benda kotak tersebut iya dia, dia yang membuat dan mengubah persepsi setiap orang berbeda-beda untuk menanggapi apa yang disajikan. 

benda kotak ajib tersebut pun mensajikan acara, yang crewnya terlihat di layar dan sangat happy lalu mereka ikut goyang. goyang yang telah dikomando oleh seseorang untuk menghibur. 

ah televisi engkau melebihi apa yang seharusnya disajikan tapi aku sendiri masih tetap melihatmu teletevisi

Rabu, 01 Januari 2014

Bukit Bintang

Bintang.
Bintang.
Bintang.

tak ada satu pun yang berubah untuk mencintaimu.
tak ada satu pun yang berubah untuk menyayangimu.
tak ada satu pun yang berubah untuk mengkhawatirkanmu.

Bintang.
Bintang.
Bintang.

aku di sini mencintaimu.
aku di sini menyayangimu.
aku di sini mengkhwatirkanmu.

Bintang.
Bintang.
Bintang.

di sini masih ada kamu.
di sini masih menunggumu.
di sini masih ada kenangan.

aku mencintaimu seperti Bintang yang selalu menyinari malam-malam harimu.
aku menyayangimu seperti embun yang menyapa di kala pagi hari.
aku mengkhwatirkanmu seperti lampu tanaman yang terjaga hingga matahari terbit dari ufuk timur.

dari perempuan yang akan merindukan Bukit Bintang bersama Bintang. Bye Kom 08