"lelaki"
sosok lelaki yang aku kenal hanya papah ku, ia satu-satunya yang mengajarkan aku displin waktu, memandikan motor, membersihkan saluran air di sekitaran rumah. ah sosok yang aku kagumi di rumah.
aku masih ingat di memori ku ketika aku jatuh dari motor semua muka ku luka luka, pertama kalinya aku melihat papahku menangis, dan di saat itulah aku merasakan getaran seorang lelaki yang aku kagumi menangis melihat anaknya terluka untuk kedua kalinya :(
papah menangis, melebihi dari mamaku. tak kuasa hati ini melihat papah menangis.
di saat tubuh ini di infus dengan jarum jarum jahanam papah yang di samping tempat tidur sambil berkata "engga sakit kok jarumnya" . ah aku seperti anak TK yang akan takut jarum suntik. di saat jarum suntik dimasukkan di dalam tubuh aku hanya teriak "aaak sakit sus" papah ku hanya memegang kaki ku yang aku goyang-goyang kan. beliau lah yang menemani ku hingga jarum suntik tersebut menebus kulit tangan kanan ku.
tak sampai dijarum suntik dan infus terpasang, seorang suster perawat masuk mengambil sampel darah. lagi lagi tangan ini tersiksa oleh jarum suntik yang jahanam yang mengambil darah segar ku. tak kuasa tubuh ini menjerit sampai mengeluarkan air mata. papah hanya bilang "udah gede masa nangis ambil sampel darah" ketakutan akan jarum suntik sejak SD aku alami, hingga saat ini.
tangan kiri ku harus dilepaskan pen yang ditanam beberapa bulan yang lalu, kini harus dibuka diganti yang baru. gigi depan aku patah, pelipis muka robek. seminggu mau lebaran aku terbaring di rumah sakit kota Bekasi.
aku hanya bisa intropeksi diri, apakah ini ujian atau penghapusan segala dosa-dosa yang aku lakukan selama ini, atau ini cobaan untuk keluarga ku. papah ku hanya berisikan "yang sabar ya, susan pasti kuat jangan bawa motor lagi ya, papah engga kuat liat susan nangis ditusuk-tusuk pake jarum infusan". hati siapa yang tidak retak mendengar ucapaan dari lelaki yang aku sayangi mengkhawatirkan aku sedemikian rupa.
tak lama kemudian aku didorongkan ke ruang operasi, aku tergeletak tak berdaya di tempat tidur melihat di kanan ada mama dan kiri aku ada papah, mereka mengantarkan aku hingga ruang operasi.
untuk kedua kalinya aku memasuki ruang operasi untuk pemasangan pen di tangan kiri, hanya berbeda ruangan saja, aku menunggu lama di ruangan operasi. seperti mengantri mengambil BLT. hari itu banyak yang di operasi, aku ke bagian urutan untuk ke 13 pasien yang terakhir. ruangan operasi Rumah sakit kota Bekasi hanya ada 6 ruangan, dan pasien 13 orang dan itu harus bergiliran untuk memasukinya. dan dokter pun menghampiri ku mengantakan "mba susan ya yuk masuk ke ruangan" aku hanya memberikan simbol senyuman kecil kepada sang dokter yang akan mengoperasikan tangan kiri ku.
di ruang operasi pada umunya ada meja berbentuk besi dan dikelilingi oleh peralatan peralatan operasi seperti monitor detak jantung, dan lainnya. beberapa dokter di ruang tersebut sedang sibuk memakai baju penganti untuk mengoperasikan aku, ada yang hijau dan biru serta tak lupa dari mereka mengatakan "yuk berdoa dulu, agamanya islam kan" dan aku pun berdoa "ya Alloh lancarkan dan mudahkan operasi ini" setelah aku berdoa, dari beberapa dokter memasukan cairan tak lama kemudian cairan itu membuat tak sadarkan diri lagi, aku hanya ingat ada dokter yang mengatakan "siapkan gunting dan lain-lain" dan aku pun tertidur selama 1,5 jam di ruangan operasi.
aku mulai sadar, ketika dari bagian mereka menepuk menepuk pipi ku "yuk sadar yuk kita pindah ruangan perawatan".
tempat tidur ku pun mulai didorong dari ruangan operasi, dan aku melihat pertama kali papah dan mamaku yang senantiasa menunggu. aku melihat dari mata mereka berkaca kaca mengkhawatirkan aku. aku pun melihat ua aku yang senantiasa menungguku. selesai operasi cairan penahan obat nyeri mulai hilang, terasa sekali linu dan sakitnya bekas operasi. tak tahan rasanya aku pun menahan sekuat mungkin tetapi air mata tak sanggup untuk aku tahan. papah ku melihat aku yang sedang menahan rasa sakit ia hanya berkata "sakit ya, yang sabar ya nanti juga ga sakit lagi" aku pun hanya senyum sambil menahan rasa sakit. lalu perawat pun dateng beberapa kemudian papah ku masuk lagi keruangan. "gimana udah engga sakit lagi kan?" dan aku pun tersenyum lagi, dalam hati pasti papah ku yang memanggil perawat tersebut untuk memberikan cairan untuk meredamkan rasa sakit yang aku alami setelah operasi.
makanan pun dateng, mama ku membantu aku untuk makan. dan aku disuapi seperti anak kecil yang tak bisa makan. aku seperti biasa melahap abis makanan yang diberikan oleh perawat rumah sakit. jam makan sore pun dateng setelah lamanya aku tertidur karena cairan yang dimasukkan di tubuh ku. kali ini makan disuapi papah ku, papah ku mensuapi aku dengan amat hati hati lalu baru setengah makan papah ku berenti "udah ya makannya biar ga malu maluin masa orang sakit makannya gembul" entahlah apa yang dipikirkan dari papahku, di saat itu papah ku menstop makanan yang aku makan, aku hanya tertawa melihat pola kelakuan papahku untuk aku berhenti makan.
tak terasa Idul Fitri datang, orang orang menyambut kemenangan dan merayakan aku hanya terbaring di rumah sakit, ada mama dan papah ku yang setia di samping aku. tak kuasa air mata jatuh seharusnya mereka tak direpotkan dengan keadaan seperti ini tapi kali ini lebaran Idul Fitri, mereka harus menemani aku di rumah sakit. gema takbir berkumandang terdengar jelas dari kamar, tak kuasa air mata ini jatuh dan aku hanya bisa berdoa disela sela takbir berkumandang "ya Alloh bahagiakan mereka, ijinkanlah aku membahagiakan mereka, berikanlah kesempatan aku untuk membalas semua apa yang mereka lakukan walaupun aku tahu aku tak sanggup membalas kebaikan mereka sejak aku lahir hingga saat ini". dan papahku dateng membawa baju kokoh putih dan peci hitam. "besok papah solat di mesjid deket rumah sakit aja, mama jaga susan aja" tak kuasa air mata ini perlahan jatuh mendengar ucapan dari papah.
takbir berkumandang menyebut namaNya
ALLOHUAKBAR....ALLOHUAKABAR....ALLOHUAKABAR....LAILLAHAILLALLOHUALLOHUAKBAR...
hati ini bergemtar akan takbir yang diserukan oleh ribuan umat mesjid AL-Barkah Bekasi.
papah pun selesai solat dateng dateng dan bersalaman dengan mama, mencium kening mama, lalu papah mencium kening aku sambil berkata "maafin papah ya kalo selama ini ada salaha sama susan" "susan juga minta maaf ya pah, seharusnya kita engga di sini" papah hanya bilang "sabar" tak lama kemudian teteh membawakan ketupat lebaran yang dibikin oleh ua tersayang, lengkap dengan hidangan yang lainnya. aku pun ikut memakannya.
setelah mampir dua minggu di rumah sakit saatnya aku keluar dari sana, dan papah ku berkata "alhamdulilah dilepas juga jarum infusnya, engga nangis lagi kan".
Makasih papah, kekhawatiran mu melebihi mama. i love you :* muah !