kaki ini melangkah ke suatu gedung yang isinya, tim medis mengabdikan dirinya untuk masyarakat, yup rumah sakit. sudah hampir dua tahun aku tak berkunjung di rumah sakit ini, bahkan kontrol ke spesialis ortho pun tidak, papa ku memaksa ku untuk ambil pen yang ditanam di bagian tangan kiri ku. awalnya aku bete, karena aku tak ingin bersentuhan lagi dengan jarum suntik, infusan, ataupun meja operasi. dengan ikhlas aku akhirnya luluh untuk di operasi. pertama aku masuk ke sebuah ruang untuk tes darah, entahlah istilah medisnya apa, yang jelas jarum itu masuk ke lengan tangan ku. kalo di tanya sakit ga ambil darah? sakit !! melebihi gagal moveon. setelah ke bagian laboratorium darah, aku langsung di foto, foto rongsen. Hasil foto pun ke esok kan harinya baru bisa diambil oleh aku, setelah semua berkas siap untuk di daftarkan ke bagian adminitrasi, aku pun bersiap untuk menjalani operasi.
Sore harinya aku sudah di rumah sakit, dengan membawa baju pakaian secukupnya. aku pas sampai di kamar ruang inap, saat itu belum di infus dan masih bisa jajan keluar rumah sakit, beli ketoprak, jahe susu, gorengan. aku menganggap hal itu lagi wisata kuliner, kapan lagi makan malam.hehehe suster-suster jaga pun masuk ke ruangan untung mengcek keadaan pasien yang akan menjalankan operasi esok hari. diantara salah salah satu suster pun bilang ke aku "jam 2 malam udah puasa ya neng" aku "oke suster siap"hehehe kira-kira jam setengah dua aku dibangunin oleh bu Rus (ibunda tersayang) buat minum dan makan roti. setelah selesai makan dan minum aku pun kembali tidur. jam setengah lima subuh dibangun untuk mandi, karena aku pagi ini akan menjalankan operasi.
saat matahari mulai terbit dari timur aku pun bergegas untuk mandi, pada saat mandi aku tidak sia-siakan kesempatan untuk membersihkan semuanya, karena esok hari aku tak boleh kena air, sudah keramas, biar pas di operasi dengan rambut tidak mengeluarkan bau tak sedap.hehehe aku pun tak lupa mengoleskan krim pagi, kebiasaan-kebiasaan hal tersebut tak mau aku tinggalkan sedikit pun, karena menghilangkan itu lebih sulit dibanding merawat muka.hehehe pasien di sebelah ku sudah masuk ruang operasi, karena ia operasi amandel, sedangkan ku kata susternya, dokter Gatot lagi ada tindakan (read: operasi besar), aku pun menunggu hingga aku tertidur dan bangun bangun pun belum dipanggil juga, sedangkan selang infusan udah abis 2 botol cairan.hehehe jam 2 siang pun suster menyuruh aku buka puasa saja, karena di nyatakan tidak jadi operasi, akan digantikan keesokan hari. tak lama kemudian sang dokter pun dateng, dan meminta maaf kepada ku. aku pun hanya bisa tersenyum, ya mau gimana lagi dokter Gatot merupakan dokter spesialis Ortho yang paling TOP di RSUD Bekasi hehe. aku pun menjalani kehidupan seperti orang yang tidak sakit, cuma ribet di selang infusan aja sih hehe, makan sate, siomay, ah pokoknya kaya puasa ramadhan aja, nikmat sekali.haha
Operasi kegiatan macam ginian sudah tak asing bagi ku, bukan karena aku anak kedokteran, bukan banget. yah ini operasi ketiga kalinya setelah tangan ku di pasang pen heheh. waktu pertama kali mah, deg-degan cuma karena para dokter di rumah sakit Sokaraja saat itu santai, ya aku juga ikutan santai.hehehe aku percayakan semua para dokter Ortho saat itu dan tidak lupa juga berdoa sih heheh. selang keluar dari ruang operasi, aku melihat banyak sekali temen-temen kampus yang nungguin aku, senior maupun junior saat itu. tak lama kemudian aku merasakan sakit yang amat sakit, melebih gagal moveon. akhirnya aku tahu yang menyebabkan sakit itu ya karena obat biusnya sudah ilang, dan aku pun sepanjang malam itu hanya nangis, hingga tak sadarkan diri karena capek nangis akhirnya tertidurlah aku. aku terbangun kembali ya karena sakit itu membangunkan aku, hingga paginya aku di kasih obat buat menahan rasa nyeri. selang beberapa bulan aku pun terkena musibah kembali, ya aku jatuh lagi dari motor, tapi ini lebih parah. patah gigi depan ku, pelipis ku robek, dan pen ku bengkok.
Hari itu perasaan ku hancur, karena banyak sekali luka yang harus aku dibenerin.hehehe, aku hanya cuma bisa "ya Tuhan nikmat Mu sungguh luar biasa semoga Kau memberikan ku kesabaran dan rejeki yang melimpah" aku percaya Tuhan memberikan cobaan ku dua kali, biar aku benar benar tidak khufur nikmat, saat itu aku memputuskan untuk di rawat di Bekasi, karena seminggu lagi Hari Raya Idul Fitri. tidak mungkin kedua orang tua ku ke Purwokerto. saat itu aku merayakan lebaran di RSUD Bekasi, pada saat itu perasaan ancur banget, seharusnya suka duka menyambut Hari Raya, ini aku terbaring di ruang inap. jangan ditanya lagi soal perasaan, yang jelas saat itu cuma mau nangis ngeliat mama ga bisa solat Hari Raya, teteh ku ada solat di rumah, sedangkan bapak solat di Mesji Agung Kota Bekasi, karena jarak RSUD Bekasi tidak jauh dari Mesjid Agung. aku tak kuat menatap mata mama ku yang takbiran di samping ku sambil mengelus rambut ku, aku saat itu sebisa mungkin untuk tidak menangis. saat mama ku ke kamar mandi, butiran-butiran air mata tak terasa jatuh di pipi, setelah selesai solat bapak pun memberikan tangannya ke mama ku, untuk meminta maaf atau lebih dikenal dengan maaf-maafan. aku tak kuasa menahan rasa salah ku kepada mereka, aku pun meminta maaf kepada mereka, dengan air mata yang tak kuasa lagi untuk turun. selang berapa menit teteh dan ua ku serta para sepupu ku berserta anak anaknya dateng buat jengukin aku, aku saat itu merasakan kasih sayang ua ku serta yang lain tak ada yang berkurang sedikit pun, mereka tetep dateng dan merayakan bersama di rumah sakit. saat itu aku hanya bisa berdoa "ya Alloh berikan lah aku umur panjang, biarkan aku membahagiakan mereka semua, sebagaimana mereka pun menyayangi ku disaat aku terbaring di rumah sakit" aku pun tak lupa merasakan kekeluargaan para tim medis yang rela tidak dapet cuti libur, aku salut sama mereka semua, mereka menjalankan dengan keikhlasan, tak mengeluh sedikit pun para tim medis yang berjaga saat itu.
Tak terasa sudah dua tahun pen ini terpasang manis di tangan kiri ku, kemana mana pen itu menemanin ku, mulai dari ngajuin judul skripsi hingga pendadaran.haha soulmate pokoknya, hehe andaikan ini makhluk hidup, pen itu udah siap masuk PAUD dan memanggil ku bunda, syukurnya pen itu benda mati :)) . akhirnya pen ini pun siap diambil oleh dokter Gatot dua tahun lalu yang memasang pen di dalam tangan kiri ku. rasa deg degan buat menghadapi ruangan operasi tak sedeg-degan masuk ruang pendadaran.hehehe sebelum di operasi, biasanya pasien di sterilkan terlebih dahulu, semua pakaian dalam di copot lalu kita disuruh pake baju khusus operasi. setelah selesai mengganti baju, aku pun kembali duduk, dengan menenteng infusan. di ruang tersebut pun tidak hanya aku yang menunggu giliran di bedah, ada dua orang ibu, yang satu operasi katarak, yang satu lagi pasang alat buat cuci darah.
Aku tak tahu, Alloh lagi-lagi memberikan skenario yang sungguh ciamik bagi ku. aku ditemukan oleh sosok kedua ibu-ibu itu. ibu yang akan di operasi katarak, ia memiliki sifat yang humoris, dapat bercerita awal mula gejala sakit katarak, yang satunya lagi ibu yang akan dipasang alat cuci darah tak banyak berbicara. aku pun asik mendengarkan isi cerita si ibu tadi, gejala sakit katarak itu kaya gimana, hingga aku tak merasakan jenuh di ruang tunggu tersebut. tak lama kemudian ibu pun dipanggil lalu beberapa menit kemudian aku pun dipanggil oleh seorang dokter koas, lagi-lagi skenario Alloh begitu membuat mengucapkan istigfar dan alhamdulilah. di saat aku melangkahkan kaki, aku melihat ada seorang pasien yang keliatannya bapak-bapak yang sedang di operasi kakinya, kakinya terkena diabetes akut, hingga mengeluarkan cairan yang bercampur darah, saat itu tak kuasa aku untuk menunduk, pasien tersebut di ruang operasi pertama, kedua aku melihat ada pasien lagi oeprasi di kepala, soalnya aku melihat foto rongsennya di layar yang bercahaya khusus, aku pun kembali menunduk. selanjutnya aku melihat sosok ibu yang humoris itu sedang di operasi matanya, aku melihat ada alat yang mengarahkan ke mata ibu-ibu humoris tadi. "ya Alloh angkatlah penyakitnya, mudahkanlah operasinya" lalu aku pun mengucapkan Aamiin. pas kaki ku melangkah ke ruang operasi, dokter Gatot pun bilang "loh Susan belum bagiannya, kamu di suruh siapa tadi?" ucap dokter. aku pun bilang "kakak yang sipit itu dok" ucap ku . "yaudah kamu di luar dulu ya" ucap dokter Gatot. lalu dokter Gatot pun menghampiri kakak koas yang tadi, dan memberikan arahan untuk aku yang menunggu buat di operasi. aku pun di kasih kursi, dan nunggu di koridor ruangan operasi, berbagai macam aku melihat alat-alat medis yang berkeliaran di atas sebuah meja yang sudah ada rodanya dan mudah untuk di dorong, serta tumbukan kapas-kapas yang kotor karena darah. satu persatu pasien yang tadi aku liat mulai meninggalkan ruangan, aku pun bangun untuk tidak menghalangi koridor yang begitu dingin. Aku pun sungguh tak tahu skenario apalagi yang akan ku lihat di ruang operasi ini, setelah menunggu 1 jam. pasien dokter Gatot pun keluar, dan ia pun belum sadar karena obat biusnya masih ada di dalam tubuh. lalu kaki ku punmasuk ke ruangan operasi khusus Ortho, aku pun naik di atas sebuah meja yang khusus untuk operasi, semua dokter ada di situ, mulai dari dokter Gatot, dokter koas hingga dokter-dokter yang lainnya, yang aku sendiri tak tahu mereka itu bagian apa saja.hehhee. alat-alat persiapan operasi pun sudah menempel di tangan dan badan ku, satu persatu cairan masuk ke selang infusan, dan aku pun di suruh berdoa oleh dokter Gatot. selesai berdoa aku pun di masukan cairan satu persatu, cairan terakhir aku merasakan pusing, dan aku pun menebak bahwa itu biusan. selang dua jam dari obat biusan aku pun dibangunkan oleh perawat, disadarkan dan siap untuk kembali ke ruang inap, sedikit dalam keadaan menyadarkan diri dari biusan aku mendengar suara dokter Gatot. "san, pen kamu susah di cabut tadi, maaf ya jadi lama" samar-samar suara dokter Gatot yang aku dengar. karena aku masih merasakan pusing aku hanya tersenyum, yang mengartikan "ora opo-opo dok" sesampai aku di tempat tidur di ruang inap aku mulai merasakan nyeri yang sangat amat parah, aku yakin ini obat biusan ku sudah mulai menghilang dari tubuh ku. dan benar tebakan ku, suster pun memasukan cairan ke selang infusan untuk menahan nyeri, entahlah apa namanya.hehehe aku tak boleh makan dan minum setelah operasi sebelum aku kentut, tak perlu menunggu 3 menit aku kentut, ucap ku dalam hati "yesss kentut" haha ketawa ku sambil membayangkan beda nikmatnya nasi padang saat itu, tetapi tetap saja yang boleh masuk ke mulut hanya air mineral, aku pun meminum air mineral yang sudah bu Rus siapkan. sore hari pun aku belum dapat jatah makan, akhirnya malam aku dibawakan masakan tante, ya tante-tante ku pada kumpul, sepupu-sepupu ku pun menemani di rumah sakit, lumayan ada hiburan.hehehe
sehari setelah operasi dokter Gatot berserta para dokter koas ke ruangan ku buat ngecek, keadaan ku. dokter Gatot pun berkata "ga pusing kan san, gimana udah bisa gerak belum ? sambil mengecek kondisi tangan kiri ku, aku melakukan apa yang diperintah dokter, setelah aku mengikuti perintahnya, aku pun dinyatakan esok hari boleh langsung pulang, bahkan sore pun sudah bisa pulang ke rumah. aku pun senang, karena aku tak harus lama lama di rumah sakit. kalau kata salah satu temen ku "VIP di rumah sakit tetep aja di rumah sakit" dan aku pun setuju dengan perkataan dari salah satu teman ku.
